Produksi minyak kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia
diprediksi merosot seiring dengan memburuknya kondisi tanaman akibat cuaca El
Nino. Akibatnya, proyeksi harga menunjukkan tren positif.
Penutupan perdagangan Bursa Malaysia pada minggu
ketiga Maret, harga CPO untuk kontrak Juni 2016 naik 35 poin menjadi 2.578
ringgit per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2014.
Serangan cuaca El Nino telah mengancam
keberlangsungan tanaman kelapa sawit di Negeri Jiran. Oleh karena itu,
produksi minyak kelapa sawit atau produsen CPO kedua terbesar di dunia itu
bakal merosot 1,5 juta ton sepanjang tahun ini yang berakhir September 2016.
Produksi CPO Malaysia bisa berkurang hingga 2 juta ton
atau mencapai level 19 juta ton. Sementara Indonesia sebagai pemasok terbesar
di dunia bakal menghasilkan sekitar 31 juta ton.
Pengurangan produksi CPO sebagai bahan baku makanan,
kosmetik, dan bahan bakar nabati membuat harga pada bulan ini mencapai titik
tertinggi dalam dua tahun terakhir. Adapun dalam dua dekade ke belakang, EI
Nino menghambat penanaman kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia yang memasok
86% suplai dunia.
Melihat fakta tersebut, diperkirakan suplai CPO pada
semester l/2016 akan terkoreksi 1 juta ton dibandingkan periode yang sama di
tahun sebelumnya. Alhasil, harga CPO bisa terkerek hingga 3.000 ringgit
Malaysia per ton atau US$744 per ton pada akhir tahun.
El Nino menurunkan produksi hingga meningkatkan harga,
berdasarkan konsesus survei Reuters, stok minyak sawit Malaysia bakal merosot
2,1 juta ton. Faktor utama yang menyebabkan berkurangnya pasokan ialah dampak
cuaca kering akibat El Nino.
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyebutkan, pada
Februari 2016 stok minyak sawit Malaysia jatuh ke level terendah dalam delapan
bulan terakhir menjadi 2,1 juta ton. Sedangkan produksi merosot ke posisi
terendah sejak Februari 2007.
Cadangan CPO dunia akan turun drastis termasuk dari
negara konsumen terbesar seperti India dan China. Di sisi lain, program
biodiesel di Indonesia berlangsung dengan baik karena setiap bulan mampu
menghasilkan 200.000 ton. Oleh karena itu, ekspor CPO RI bakal merosot ke
posisi 1,95 juta ton pada Februari seiring tingginya konsumsi domestik.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)
menyebutkan volume ekspor minyak sawit Indonesia Januari 2016 sebesar 2,1 juta
ton atau menurun 16% dibandingkan Desember 2015 yang mencapai 2,5 iuta ton.
Analis MIDF dalam publikasinya menyampaikan, ada tiga faktor utama yang
mendongkrak harga CPO di 2016, yakni :
§ Ekspektasi
berkurangnya produksi dan stok pasokan,
§ Merosotnya
panen kedelai Amerika Serikat, serta
§ Rendahnya
harga minyak mentah sehingga tidak berpengaruh terhadap laju harga minyak
sawit.
Menjelang akhir paruh pertama 2016, stok minyak sawit
Malaysia diperkirakan turun ke tingkat kritis, yakni 1,5 juta ton. Seiring
dengan terkoreksinya pasokan, harga pun bergerak menghijau dan berpotensi
mencapai 3.000 ringgit Malaysia per ton.
Menurut MIDF, dalam periode tersebut harga CPO
cenderung seimbang dengan minyak kedelai. Sebelumnya, fenomena langka ini
pernah terjadi pada Februari 2011.
Ketika itu, harga CPO dapat menyentuh posisi 3.800
ringgit Malaysia per ton saat persediaan turun menjadi 1,48 juta ton.
Asumsinya, harga minyak kedelai ke depan meningkat sedikit ke level US$725 per
ton dengan posisi nilai tukar 4,15 ringgit per dolar AS.
United States Department of Agriculture (USDA)
memprediksi pasokan kedelai AS tahun ini berkurang menjadi 106,93 juta ton.
Sedangkan suplai global juga terkoreksi menuju 320,21 juta ton. Turunnya
produksi kedelai menjadi sentimen positif bagi CPO karena minimnya kompetisi
CPO dengan minyak kedelai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar