Kelapa Sawit (Elaeis Guenensis) adalah tumbuhan
industri penting penghasil minyak nabati, minyak industri, maupun bahan bakar
(biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan
dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia
adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia awal penyebarannya
mulai dari daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Bahkan, sekarang
sudah merambah ke pulau Kalimantan dan Irian.
1. Sejarah Perkebunan
kelapa sawit di Indoensia
Sejarah perkebuan
kelapa sawit di Indonesia yang merupakan informasi awal yang diketahui adalah
sebagai berikut :
§ 1848 – Kelapa
Sawit pertama kali dikenalkan oleh bangsa Belanda pada masa penjajahan, yang
dibawa dari benua Afrika.
§ 1870 –
Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam
di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara.
§ 1911 – Kelapa
sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di
Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K.
Schadt.
§ 1966 – Perluasan
areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan
areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak
bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
§ 2006 – Program
Revitalisasi Perkebunan, dimana kelapa sawit adalah salah satu komoditas yang
masuk didalam program revitalisasi tersebut. Perkembangan kelapa sawit yang
konsisten dan berkelanjutan akan menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak
kelapa sawit nomor satu di dunia.
2. Potensi
Pengembangan Kelapa Sawit
Mulai tahun 2006
tersebut pemerintah mulai fokus untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit
dengan pendekatan penerapan teknologi serta optimasi proses pasca
panen. Sejak tahun 2006 produksi minyak sawit Indonesia telah
melampaui produksi minyak sawit Malaysia. Secara bersama produksi minyak
sawit Indonesia dan Malaysia pada tahun 2008 menguasai 85,8% produksi
minyak sawit dunia atau sebesar 42.904 ribu ton.
Produktivitas minyak
kelapa sawit sekitar 3,8 ton/ha (2008) setara dengan 9,3 kali dan 5,6 kali
lebih tinggi dibanding produktivitas minyak kedelai, rapeseed,
dan bunga matahari. Kelapa sawit adalah tanaman tahunan yang
produktivitasnya mencapai 25 tahun, sedangkan minyak nabati lainnya adalah
budidaya tanaman semusim yang pengolahan tanahnya dilakukan setiap musim tanam.
Dengan demikian budidaya kelapa sawit lebih hemat energi dan memerlukan lahan
lebih sedikit untuk mencapai jumlah produksi yang sama dibanding minyak
nabati lainnya.
3. Karakteristik
Perkebunan Kelapa Sawit
Kelapa sawit
memiliki akar serabut yang berfungsi sebagai penyerap unsur hara dan
respirasi tanaman serta sebagai penyangga berdirinya tanaman. Kelapa sawit
dewasa memiliki 8000-10000 akar primer 15-20 meter dari dasar batang dengan
diameter 4-10 mm, (Lubis et al 1989) yang
sebagian besar tumbuh mendatar sekitar 20-60 cm di bawah permukaan tanah.
Batang kelapa sawit tidak memiliki kambium tajuk dan tidak bercabang. Batang
kelapa sawit berfungsi sebagai penyangga tajuk dan sebagai jalan pengangkutan
air dan hara (zat makan). Pertumbuhan kelapa sawit tidak terbatas, tapi menurut
pertimbangan ekonomisnya hanya sampai umur 25 tahun dengan ketinggian 10-11 m.
Kelapa sawit merupakan
jenis tanaman yang banyak membutuhkan air untuk pertumbuhannya.
Adanya perubahan penggunaan lahan dari hutan alami ke sistem tanaman
monokultur seperti perkebunan kelapa sawit akan merubah sistem dan
tatanan neraca air yang ada di wilayah tersebut. Karena mekanisme
tanamannya yang monokultur, baik langsung maupun tidak langsung akan
berpengaruh terhadap neraca air lahan dan ketersediaan air di
wilayah tersebut dan akibat dari alih guna lahan ini secara tidak langsung
memicu krisis air dilingkungan sekitar perkebunan.
Selain faktor alam,
faktor sosial dan kemasyarakatan juga menjadi bagian yang sensitif dalam
menjamin keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, seperti yang kita ketahui saat
ini, banyak perusahaan asing dan swasta yang berperan menjalankan bisnis ini
dan tentu saja masyarakat sekitar juga harus diperhatikan, perihal
kesejahteraan serta peluang berbagi hasil.
4. Perkebunan
Kelapa sawit yang ramah lingkungan
Perkebunan sawit yang
ramah lingkungan dicontohkan di Desa Dosan Kecamatan Pusako, Kabupeten
Siak, Riau [7]. beberapa poin penting dalam perkebunan kelapa sawit ramah
lingkungan antara lain:
a.
Pemanfaatan lahan non-produktif, memanfaatkan lahan
ahan eks tambang dan lahan non-pertanian dan non-hutan.
b.
Tidak lagi menggunakan herbisida selama proses
produksi, untuk mengurangi penggunaan bahan kimia yang akan mengurangi
kesuburan tanah dalam jangka panjang serta dampak terhadap pencemaran
lingkungan
c.
Kelompok petani mandiri, dengan kesadaran peningkatan
ekonomi masyarakat harus sejalan dengan perlindungan hutan.
d.
Adanya sertifikasi terkait dengan perkebunan kelapa
sawit ramah lingkungan dari Indonesian Sustainable Palm Oil (ISCO)
e.
Pengembangan Teknologi kelapa sawit ramah lingkungan,
beberapa teknologi yang diaplikasikan untuk mendukung keberpihakan kepada lingkungan
dan pada pengelolaan limbah.
Perusahaan menerapkan
pengurangan jumlah limbah yang dibuang ke media lingkungan berdasarkan empat
prinsip, yaitu: pengurangan dari sumber (reduce), sistem daur ulang (recycle),
pengambilan (recovery) dan pemanfaatan kembali (reuse) secara berkelanjutan
menuju produksi bersih. (Casson, A., 2003
: 24).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar